Dekat Di Hati
Tiga bulan silam berganti
Suasana ramai jadi sepi
Unjuk gigi tak ada lagi
Canda.,.
Tawa...
Hanya terukir di tembok teras ruangan ini
Sedih akan puruknya nilai
Tergambar di bangku berserakan ini
Berpelukan kerana kepedihan dan keindahan
Tergores di hati
Kau jauh di pandangan mata
Kau tempuh asa yang tertunda
Kau kobarkan semangat membara
Kau tumpahkan pengorbanan tak bertuah
Tuk menggapi cita yang terukir indah
Di naungan rencana besarmu
Aku tak dapat mengelak
Rasa rindu di bangku sekolah
Rasa pilu sejak mengenal cinta
Rasa bangga akan prestasi yang ada
Aku rindu kalian
Rindu serindu-rindunya
Aku ingin bertatap muka dengan kalian
Kenanganmu dekat dihati
Wajahmu melekat di jiwa
Goresan pertolonganmu tak dapat terhapus
Kawan,
Semoga rasa ini terbalas
Di isyarat dekapan hatiku
Yang rindu akan kalian
Menatapku lara disini
Tiga bulan silam berganti
Suasana ramai jadi sepi
Unjuk gigi tak ada lagi
Canda.,.
Tawa...
Hanya terukir di tembok teras ruangan ini
Sedih akan puruknya nilai
Tergambar di bangku berserakan ini
Berpelukan kerana kepedihan dan keindahan
Tergores di hati
Kau jauh di pandangan mata
Kau tempuh asa yang tertunda
Kau kobarkan semangat membara
Kau tumpahkan pengorbanan tak bertuah
Tuk menggapi cita yang terukir indah
Di naungan rencana besarmu
Aku tak dapat mengelak
Rasa rindu di bangku sekolah
Rasa pilu sejak mengenal cinta
Rasa bangga akan prestasi yang ada
Aku rindu kalian
Rindu serindu-rindunya
Aku ingin bertatap muka dengan kalian
Kenanganmu dekat dihati
Wajahmu melekat di jiwa
Goresan pertolonganmu tak dapat terhapus
Kawan,
Semoga rasa ini terbalas
Di isyarat dekapan hatiku
Yang rindu akan kalian
Menatapku lara disini
Aku Rela
Aku dengar curahan hatimu
Lara akan tergelimut materi
Terjerat kerana dia pergi
Lari dari kenyataan hidup
Kau tiupkan ikhtiar
Tak cukup melunasinya
Kau teteskan air mata
Penyesalan tak ada gunanya
Tak kuasa hati menahan
Mata bercucuran air kepedihan
Jiwa tergoyah tuk korbankan semua
Sebagai anak eka dari lelaki durjana
Aku rela
Organ tubuhku terurai
Terjual tuk bebaskan materinya
Aku rela
Nyawaku melayang
Buat dia tersenyum
Sirna datangkan kebahagiaannya
Aku dengar curahan hatimu
Lara akan tergelimut materi
Terjerat kerana dia pergi
Lari dari kenyataan hidup
Kau tiupkan ikhtiar
Tak cukup melunasinya
Kau teteskan air mata
Penyesalan tak ada gunanya
Tak kuasa hati menahan
Mata bercucuran air kepedihan
Jiwa tergoyah tuk korbankan semua
Sebagai anak eka dari lelaki durjana
Aku rela
Organ tubuhku terurai
Terjual tuk bebaskan materinya
Aku rela
Nyawaku melayang
Buat dia tersenyum
Sirna datangkan kebahagiaannya
Meskipun Sakit
Hatiku tak kuasa menahan
Air mata kepedihan bercucuran
Gejolak jiwa menggelimuti pikiran
Kala dia sujud berpinta padaNya
Atas puing-puing hutang merajam di benak sucinya
Suara rintih menyakiti hidupnya
Aku tak berani menyapanya
Ragaku menapaki Tuk taruhkan organku
Biar hutangnya lunas
Biar dia torehkan senyuman di kehidupan
Biar dia lebih mantapkan bermunajat padaNya
Meskipun disini sakit
Terkait di tubuhku
Meskipun organku sirna tak bersisa
Aku hanya ingin dia hidup bahagia
Di dunia yang selalu terselimut lara
Meraih asanya di nirwana
Hatiku tak kuasa menahan
Air mata kepedihan bercucuran
Gejolak jiwa menggelimuti pikiran
Kala dia sujud berpinta padaNya
Atas puing-puing hutang merajam di benak sucinya
Suara rintih menyakiti hidupnya
Aku tak berani menyapanya
Ragaku menapaki Tuk taruhkan organku
Biar hutangnya lunas
Biar dia torehkan senyuman di kehidupan
Biar dia lebih mantapkan bermunajat padaNya
Meskipun disini sakit
Terkait di tubuhku
Meskipun organku sirna tak bersisa
Aku hanya ingin dia hidup bahagia
Di dunia yang selalu terselimut lara
Meraih asanya di nirwana
Dusta yang Terawat
Sejak aku mengenal cinta
Nurani tergoyah
Semua waktu terlupakan
Seluruh jiwa ku korbankan
Saat kata terucap
Dusta terungkap
Raga ria melakoni
Penyesalan hati
Hanya sedetik jantung berdetak
Ku arungi cinta
Ku rawat dusta
Ku hina dihadapannya
Ku bangga dia bahagia
Dusta membuat dia terluka
Dusta ini
Telah melekat di hati
Jadi kebiasaan makanan hari
Sampai aku mati
Tetap seperti ini
Sejak aku mengenal cinta
Nurani tergoyah
Semua waktu terlupakan
Seluruh jiwa ku korbankan
Saat kata terucap
Dusta terungkap
Raga ria melakoni
Penyesalan hati
Hanya sedetik jantung berdetak
Ku arungi cinta
Ku rawat dusta
Ku hina dihadapannya
Ku bangga dia bahagia
Dusta membuat dia terluka
Dusta ini
Telah melekat di hati
Jadi kebiasaan makanan hari
Sampai aku mati
Tetap seperti ini
Jika Itu Jodoh
Sulit ku merauk hatinya
Sakit ku tancapkan panah untuknya
Remuk jasadku tanpa dirinya
Sirna jiwaku bila tak bersamanya
Bila Sang Maha Cinta memutar takdirku
Membelai hatinya
Tak aku siakan kesempatan itu
Tuk persunting dia
Jika itu jodoh untuk kehidupanku
Malam 1000 Bulan
Jelang mega merah maghrib
Sejuk berhembus
Lantunan suara hewan malam diam
Angin bertiup sepoi
Tumbuhan tunduk mengalun
Rembulan bersinar terang
Rasi bintang seakan bertasbih
Awan tebal tanpa mendung
Seakan semua bersujud padaNya
Lantunan tadarus menyapa
Manusia tertidur pulas
Lupa akan kesunahan bulan umat muhammad
Terhipnotis suasana malam ini
Apa ini?
Malam tak ada makhluk yang tahu menahu
Malam ijabahnya puing-puing do'a
Malam para malaikat turun membawa nur
Malam kala ALLAH menurunkan keajaiban
Yang belum pernah Dia turunkan
Malam 1000 bulan
Malam indah, hening nan tenang
Jelang mega merah maghrib
Sejuk berhembus
Lantunan suara hewan malam diam
Angin bertiup sepoi
Tumbuhan tunduk mengalun
Rembulan bersinar terang
Rasi bintang seakan bertasbih
Awan tebal tanpa mendung
Seakan semua bersujud padaNya
Lantunan tadarus menyapa
Manusia tertidur pulas
Lupa akan kesunahan bulan umat muhammad
Terhipnotis suasana malam ini
Apa ini?
Malam tak ada makhluk yang tahu menahu
Malam ijabahnya puing-puing do'a
Malam para malaikat turun membawa nur
Malam kala ALLAH menurunkan keajaiban
Yang belum pernah Dia turunkan
Malam 1000 bulan
Malam indah, hening nan tenang
Mudik
Penuh...
Berdesak-desakan...
Aku alami disini
Di gerbong kereta api KRD
Menangis...
Tertawa...
Terlihat di semua arah pandang
Kala aku berdiri disana
H-5 mudik bersama
Penuh antrian tiket
Bak ada gula ada semut
Suasana ini...
Buatku terinspirasi
Dan selalu ingin mudik kembali
Di hati penuh dosa ini
Penuh...
Berdesak-desakan...
Aku alami disini
Di gerbong kereta api KRD
Menangis...
Tertawa...
Terlihat di semua arah pandang
Kala aku berdiri disana
H-5 mudik bersama
Penuh antrian tiket
Bak ada gula ada semut
Suasana ini...
Buatku terinspirasi
Dan selalu ingin mudik kembali
Di hati penuh dosa ini
Jika Aku Pulang
Telah jauh ku berjalan
Menapaki jejak kehidupan
Mengarungi sang waktu
Merasakan pahitnya pujian
Hanya tuk memetik bintang
Teruntukmu
Meraih asa sang rembulan
Itu hanya untukmu
Sambutlah
Dengan senyuman bahagia
Jika aku pulang
Sentuhlah ragaku
Usap peluh kesalku
Ringankan beban di pundak hitamku
Hilangkan letih dengan belaian cintamu
Jika aku pulang
Ku berpinta,
Kau jadi tempat sandaran hatiku
Di kepenatan jasadku
Ku bertahta,
Kau tempatku berhenti abadi
Tuk tenangkan jiwaku
Yang goyah akan iman
Rapuh akan islam
Linglung tentang ihsan
Menyambut Kemerdekaan
Tinggal menghitung hari
Mengurai benih suci
Melebur puing-puing dosa
Atas amalan terlaksana indah
Tertib membawa berkah
Baju, celana dan peci serba baru
Adonan kue membelenggu
Wadah toples bersatu padu
Bingkisan parsel terhias elok
Atap rumah bersih tersapu
Dindingnya setebal kue bolu
Lantai licin bak cermin hias
Semua mereka lakoni
Menyambut jasad kembali bayi
Tuk umat nabi akhirizamani
Di hari nan fitri
Rencanaku...
Ku awali dari pegawai bawahan
Ku buat gaji tuk beli inspirasi
Ku sebarkan benih literasi
Sampaikan ke dunia
Bahwa aku penulis amatir masa kini
Terlintas Dia
Disini,..
Di gerbong tengah menepi
Menunggu tempatku berhenti
Lemah berbaring
Letih meruncing
Saat itu gerbong istirahat sejenak
Di kantukku...
Dia tersenyum di depanku
Duduk manis disampingku
Tapi hanya bayangan semu di retina
Terlintas raut wajahnya
Terlintas dia yang dulu menyakitiku
Kenapa setiap detik berganti
Mataku tak bisa jika tak melihatnya
Mungkin ini
Rinduku yang tak terbalas di helai nafas
Melarakanku saat semua berakhir patas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar